Sunday, January 3, 2016

Batik Kebumen adalah Batik Indonesia yang Bersahaja

Kain Batik Indonesia terutama Batik Jawa adalah kerajinan bernilai seni tinggi dan berkaitan dengan perkembangan kerajaan Majapahit serta kekuasaan lain sesudahnya.

Dalam sejumlah kajian, terurai bahwa perkembangan batik banyak terjadi pada masa-masa kerajaan Mataram, Solo, dan Yogyakarta. Berdasarkan motif batik, sebenarnya dapat dilihat cerminan kehidupan masyarakat sekitar. Salah satunya adalah kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Sebab, kain dan motif batik khas Kebumen memiliki ciri khas yang unik.

Pada kunjungan ke Kebumen dalam rangka acara puncak perayaan ulangtahun ke-45 Martha Tilaar Grup pada hari Sabtu (18/9/2015), Kompas Female berkesempatan untuk berkunjung ke Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) yang terletak di Jalan A. Yani, Kebumen, Jawa Tengah, untuk melihat hasil karya perajin batik lokal.

Batik Kebumen tidak seperti batik di daerah Jawa Tengah yang biasanya memiliki motif dengan arti filosofis yang tinggi. Motif batik di Kebumen terbilang lebih sederhana dengan dominasi motif tumubuhan.

"Motif disini jauh lebih bersahaja tidak bermain dengan filosofi atau simbol," ujar Bapak Sigit. "Batik Kebumen adalah ungkapan seni dari kehidupan sehari-hari," ujar Bapak Sigit, Deputi Program Martha Tilaar.

Ciri selanjutnya yang khas dari batik Kebumen adalah warna batik yang cenderung gelap, tak seperti warna batik pesisir yang umumnya bewarna cerah.

 Salah satu motif batik Kebumen yang terkenal adalah motif gringsing, yang terkenal sampai kancah internasional karena kehalusannya. Pusat batik yang terkenal di Kebumen, berada di kampung Gemek Sakti dan Tanuraksan.

Lalu, harga yang dibanderol untuk batik tulis Kebumen cenderung terjangkau, yaitu senilai Rp 400.000 sampai Rp 1 juta. Sementara itu, batik cap harganya terbilang lebih murah, lebih kurang di bawah Rp 400.000.

Sumber.

Asal Mula Batik Kebumen

Batik Kebumen sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu, namun cerita sejarahnya masih simpang siur. Batik Kebumen dikatakan beberapa media di bawa dari keraton Yogya. Akan tetapi sebenarnya tidak ada BUKTI yang kuat tentang itu. Dari banyaknya pengrajin Batik kebumen saat saya tanya dari pusat Batik Kebumen dari Desa Jemur, Seliling dan Tanuraksan, Semua Pengrajin Batik Tulis Kebumen tidak ada yang tahu secara pasti awal Batik kebumen dibuat. Mereka semuanya kompak menjawab bahwa mereka hanya membuat saja secara turun temurun dan tidak mengetahui secara pasti.

Pembatikan di Kebumen dikenal sekitar awal abad ke-XIX yang dibawa oleh pendatang-pendatang dari Yogya dalam rangka dakwah Islam antara lain yang dikenal ialah: PenghuluNusjaf. Beliau inilah yang mengembangkan batik di Kebumen dan tempat pertama menetap ialah sebelah Timur Kali Lukolo sekarang dan juga ada peninggalan masjid atas usaha beliau. Proses batik pertama di Kebumen dinamakan teng-abang atau blambangan dan selanjutnya proses terakhir dikerjakan di Banyumas/Solo. Sekitar awal abad ke-XX untuk membuat polanya dipergunakan kunir yang capnya terbuat dari kayu. Motif-motif Kebumen ialah: pohon-pohon, burung-burungan. Bahan-bahan lainnya yang dipergunakan ialah pohon pace, kemudu dan nila tom.

Pemakaian obat-obat import di Kebumen dikenal sekitar tahun 1920 yang diperkenalkan oleh pegawai Bank Rakyat Indonesia yang akhimya meninggalkan bahan-bahan bikinan sendiri, karena menghemat waktu. Pemakaian cap dari tembaga dikenal sekitar tahun 1930 yang dibawa oleh Purnomo dari Yogyakarta. Daerah pembatikan di Kebumen ialah didesa: Watugarut, Tanurekso yang banyak dan ada beberapa desa lainnya.

Batik Kebumen memang sangat unik dan menarik perhatian banyak pecinta Batik Tanah Air, bahkan tidak sedikit mereka yang berasal dari luar jawa seperti Bali dan Sumatra, bahkan beberapa pengrajin Batik Tulis Kebumen mengatakan jika pelanggan mereka sudah sampai ke Belanda.

Sumber